Apa Saja Yang Mempengaruhi Kemampuan Dalam Membawakan Sebuah Tarian

Apa Saja Yang Mempengaruhi Kemampuan Dalam Membawakan Sebuah Tarian – Menurut Gimp dalam pembahasannya pada peringatan seratus tahun musik folklorik Makassar 2020 di seksi HI-UH, perkembangan musik klasik di kota Makassar sudah berlangsung lama dan memiliki sejarah yang panjang. Dan ada 2 orang yang sangat terkenal yang mempengaruhi gaya musik di kota Makassar, W.R Supratman dan Ho Eng Djie.

Pada tahun 1920, ada grup jazz bernama Black and White di Makassar. Grup ini didirikan oleh kerabat W.R. Supratman yang kita kenal adalah pencipta lagu daerah raya di Indonesia. Menarik bahwa W.R. Supratman juga tampil beberapa kali dengan Black and White, dimana dia memainkan biola.

Apa Saja Yang Mempengaruhi Kemampuan Dalam Membawakan Sebuah Tarian

Dekade 1920-an melihat beberapa kemajuan di kota Makassar, termasuk penggunaan listrik. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan musik rakyat di kota Makassar. Perkembangan lain terjadi pada tahun 1950-an, industri musik populer lahir di kota Makassar. Orang-orang dari China memainkan peran penting di sektor ini. Selain memiliki band, ia juga bergerak di bidang usaha persewaan alat musik, penyiapan musik, dll.

Bahasa Indonesia Kls Xi (buku Siswa)

Satu dekade setelah revolusi, perkembangan musik rakyat di kota Makassar semakin berkembang. Grup musik Makassar tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga internasional. Dua band asal Makassar yang sempat mencuri perhatian publik adalah Theory of Discoustic (atau lebih dikenal dengan ToD) dan KapalAir. Yakni dengan album ‘La Marupe’, band TOD dinobatkan sebagai album musik terbaik dekade ini oleh situs musik populer Indonesia vice.com.

Melihat perkembangan musik rakyat di kota Makassar selama 100 tahun terakhir, nampaknya kekuatan musik dan musisi sudah ada sejak lama. Banyak musisi asal Indonesia yang terkenal dalam perkembangan musik di Makassar, seperti V. Supratman ternyata sudah bermusik sejak berada di Makassar tahun 1920-an, jauh sebelum Indonesia merdeka. (Ishak, Seabad Musik Populer di Makassar. https://urlis.net/c0zqw. Diakses 4 Juni 2022)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Tionghoa memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan musik di Makassar. Ho Eng Djie (HED) lahir di Kessi Keboq (Desa Tionghoa) di Provinsi Maros pada 27 Juli 1906 (Hamonic dan Salmon 2010: 484), namun menurut Yo Kao Tjio, HED lahir pada tahun 1907. Yo Kao Tjio berasal Cina. Penulis Peranakan ini merekam “Lagu-Lagu Cina Berirama” di Makassar pada tahun 1958. Ia juga memiliki rekor HED. Namun, buku ini tidak diterbitkan.

Buku peringatan 10 tahun PERTIP (Persatuan Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa) menjelaskan bahwa PERTIP pernah memiliki grup teater yang beberapa kali tampil dan mendapat sambutan yang baik. Selain drama, ada juga kelompok kesenian berupa kelompok tari yang sama-sama populer, namun kelompok PERTIP memiliki keistimewaan, yaitu beberapa penghargaan yang diraih pada Festival Seni Drama di Indonesia pertama yang diadakan di Makassar ( PERTIP, 1953:89-92).

Profesi Mc (master Of Ceremony): Tugas, Jobdesk, Gaji, Keahlian Dan Jenjang Karir

Bahrum, dalam bukunya “Peranakan Tionghoa di Makassar” tahun 2003 yang diterbitkan oleh Yayasa Baruga Nusantara, menyebutkan bahwa sejak zaman prakolonial, suku Makassar dikenal dengan budayanya, terutama tulisannya yang berkualitas tinggi. tari, musik, puisi dan musik dalam bahasa Makassar. Musik bahasa Makassar diciptakan oleh orang Makassar seperti Bora Dg. Irate, B. Majia, Arsyad Basir dan lain-lain, serta Tionghoa atau Tionghoa. Salah satunya adalah Ho Eng Ji (selanjutnya HED), seorang Tionghoa Perakan atau Tionghoa Perakan yang berpartisipasi dalam seni Makassar melalui panton, puisi dan musik, yang sebagian besar ia nyanyikan. Posisi komposer sebagai titik tolak karya tidaklah mudah. Inspirasi dan pengetahuan dibutuhkan untuk menciptakan karya yang layak di hadapan para penyembah.

HED bisa berbahasa Makassar dengan baik karena itu adalah bahasa sehari-harinya, namun kemampuan berbicaranya juga terbantu dengan belajar bahasa Makassar dan menulis Lontarak saat belajar di Sekolah Swasta Partikulir Incek Bau Sandi di Kampung Melayu (sekarang Jalan Sangir) : ) Makassar. Di sekolah, selain mengajar bahasa Melayu, ia juga belajar bahasa Makassar setempat dan menulis dalam aksara Lontarak Bugis-Makasar.

Pada tahun 1926, HED mulai tertarik dengan kesenian Makassar, termasuk opera dalam bahasa Makassar, dan menjadi penyanyi dan penyair dalam bahasa Makassar. HED kemudian meraih ketenaran internasional melalui rekaman Canari pada 1938-1940, memimpin orkestra Sinar Sedjati yang diciptakannya, membawakan musik Makassar, Bugis, dan Mandar (Bahrum, 2006: viii-xii).

Pada tahun 1926, HED mulai tertarik dengan teater dan bergabung dalam kelompok teater bersama teman-teman dari Malaya (Singapura), A. Harris Bintangi dan M. Idrus. Selain karena HED sangat antusias terhadap seni, juga karena dunia teater dihadapkan pada peristiwa-peristiwa pada masa itu yang banyak diminati masyarakat.

Majalah Pendidikan Sabilillah Vol 43 Pages 51 100

Bersama teman-temannya di Malaya, HED mendapat kesempatan untuk menyanyi ke Sengkan (Wajo), namun tidak lama kemudian teman-temannya segera kembali ke Malaya. Kemudian, HED membantu temannya berjualan kain di Jalan Nusantara dan dibayar 3 gulden sebulan (Bahrum 2006: ix), yang dia lakukan untuk menghidupi keluarganya. HED juga bergabung dengan kelompok seni Maseri yang dipimpin oleh Pak Suleram dalam penjualan kain. Di grup ini, HED belajar menyanyikan lagu-lagu melayu dan menulis lagu dalam bahasa daerah. HED bisa berbicara, jadi dia sering diundang untuk berbicara di pernikahan dan pemakaman Tionghoa.

HED selalu mengaitkan pertunjukannya dengan tradisi lokal, seperti Pa’kacapi (seni rakyat Sulawesi Selatan, dipentaskan dengan bercerita menggunakan musik tradisional Sulawesi Selatan, khususnya kecapi Bugis) dan Pa’biola (mirip): Pa’ Kacapi, yaitu , mereka berbicara sambil bermain, yang membedakan hanyalah alat musik yang digunakan, Pa’ Kacapi menggunakan kecapi Bugis sedangkan Pa’ rebab menggunakan biola). HED menyanyikan lagu-lagunya, mengadaptasi lagu dan cerita Tionghoa di Makassar agar sesuai dengan selera peranakan Tionghoa (Hamonic dan Salmon 2010:485). HED juga bekerja dengan budaya Tionghoa, baik modern maupun tradisional, dengan tujuan membuat kreasi musik yang berbeda dari masa lalu menjadi bermakna dan indah.

Segera kelompok bagian bubar. Untuk mengekspresikan semangat kreatifnya, HED membutuhkan mitra untuk mendukungnya. Akhirnya HED mengumpulkan teman-teman dari Kampung Layang Tua (Parang Layang) dan mengundang beberapa orang yang pandai bernyanyi, kemudian ia membentuk grup Sinar Sedjati yang dipimpinnya sendiri. Grup tersebut beranggotakan enam orang yaitu Maliang Dg. Rapi sebagai pemain biola dan penyanyi, Bani sebagai pemain gong dan penyanyi, Ahmad Aceh sebagai pemain klarinet, Ins Daming sebagai pemain drum dan penyanyi dan Supu sebagai pemain gendang panjang.

Berbeda dengan keterampilan musik Makassar yang berlandaskan Tionghoa Perakan. Pada tahun 1938, citra Ho Eng Gee (HED) muncul sebagai penyanyi dan pencipta lagu Makassar yang berhasil membawa musik Makassar mendunia. Teman dekat dan partner HED di grup musik yang dipimpinnya, Poi Tyong Ang, populer dari tahun 1951 hingga 1958 sebagai penyanyi-penulis lagu Makassar. Ia sering menyanyi di acara-acara penting di kota Makassar saat itu, seperti perayaan Imlek/Imlek dan pertunjukan musik lainnya (Hamonic dan Salmon 2010: 491).

Review] Idol Manager

Pada tahun 1938, sebuah perusahaan rekaman di Surabaya meminta HED dan Orkes Sinar Sedjati untuk merekam. Saat itu produksi musik mereka tidak cukup untuk memenuhi permintaan perusahaan, sehingga HED mengambil langkah untuk berkolaborasi dengan grup lain yang memiliki uang lebih baik, yaitu Gingang Baba Makassar, sebuah grup Tionghoa.

Maka lahirlah lagu-lagu antara lain Dendang-dendang, Ati Radja, Pasang Teng, Sailong, Sio Sayang (cinta), Angko Baba dan beberapa lainnya. Pasang Teng merupakan ungkapan perayaan abadi delapan orang miskin yang ditunjukkan dengan meletakkan lampion (teng) sebagai simbol dalam festival lampion yang diadakan pada bulan pertama di dataran Tiongkok. Sedangkan Sailong adalah tarian barongsai yang mirip dengan boneka naga raksasa dan selalu ditarikan dan dipertunjukkan kungfu atau silat pada festival-festival Tionghoa, terutama pada saat Tahun Baru Imlek/Imlek. Setelah musik terbukti memuaskan, HED dan timnya menerima undangan dari Canari Recording Studio yang dipimpin oleh Hoo Sen Hoo dan mendatangkan Son Ki. Sekembalinya dari Surabaya, HED akhirnya menjadikan Son Ki Ho sebagai majikannya.

Menurut Hamonic dan Salmon dalam bukunya tahun 2010 Dunia Seni dan Kesenian Masyarakat Tionghoa Makassar, terbitan KPG (Kepustakaan Popular Gramedia), tahun berikutnya HED diundang untuk menulis lagi, tetapi dengan grup United Orchestra, melukis Makassar . musiknya Bugis. Antara tahun 1938 dan 1940, Java Critic melaporkan pada tahun 1949 bahwa sekitar 20.000 rekaman hitam musik Makassar, Bugis dan Mandar yang direkam di bawah HED terjual sebelum Perang Pasifik.

Menurut Yonsi Lolo, Budaya Tiogho di Makassar dalam Seminar Internasional UNHAS edisi 2011, sekitar tahun 1940-an masyarakat Tionghoa dan masyarakat yang berbeda budaya menikmati kesenian yang disajikan oleh kelompok seni Peranakan Tionghoa. Banyak dari kelompok bakat tersebut telah diundang ke acara dan perayaan budaya, baik Tionghoa maupun lokal, dan banyak dari mereka telah menjadi bintang utama pernikahan Tionghoa.

Modul Biologi (faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan Makhluk Hidup)

Rekaman LP musik HED dapat ditemukan di Makassar pada tahun 1950, pada saat itu harganya sangat mahal dan hanya kalangan menengah ke atas yang dapat menikmati rekaman asli melalui gramofon (alat untuk memainkan pemutar rekaman dengan piringan yang bergetar. menghasilkan disk fonografi suara). Orang yang tidak bersenjata

Bagikan:

Leave a Comment